Tapi malam ini tepatnya jam 19.32 Wita, ia meneleponku. Hal pertama yang ia tanyakan adalah apakah aku sudah makan. Ku jawab iya, meski sebenarnya aku belum makan karena sibuk membaca Novel.
Pembicaraan awal masih ringan, hingga lima belas menit berlalu ia mulai menasehatiku-anaknya. Aku hanya tercenung mendengar curahan hatinya. Isinya seperti ini...
"Nak, dengarkan Papa kali ini. Selama ini Papa telah berjuang sekuat tenaga agar bisa menyekolahkanmu. Papa rela tidur dengan perut kosong karena memikirkan sekolahmu. Papa pikir kau tahu sendiri tentang itu."
"Nak, Papa sadar memang selama ini Papa tidak bisa memberikan kehidupan yang mewah untuk kalian. Kau tahu sendiri Papamu ini hanya seorang tukang batu. Maafkan Papa untuk itu, mestinya kau dan adik-adikmu tidak terlahir dari orang tua seperti Papa."
"Nak, kemarin Papa bertengkar hebat dengan Mamamu. Maafkan pula Papamu untuk itu. Sejujurnya Papa tidak ingin lagi ribut dengannya, apalagi jika masalah uang. Karena Papa tahu, materi itu sifatnya hanya sementara. Masih ada kehidupan yang harus lebih diperjuangkan."
"Nak, selama ini pengorbanan Papa di mata Mamamu tak pernah dianggap. Uang yang selama ini Papa berikan untuknya selalu tak cukup. Penghasilan Papa selalu dibandingkan dengan penghasilannya atau penghasilan orang lain. Bagi Mamamu, Papa ini orang tak berguna."
Aku terisak mendengar curhatan Papa. Kudengar suaranya menjadi parau. Aku tahu, Papa sedang menangis.
"Papa, bersabarlah. Aku tahu, sebagai kepala rumah tangga harga dirimu seakan hancur dengan keegoisan Mama. Aku pun telah membicarakan hal itu dengan Mama. Bersabarlah Papa.." Ucapku memberi pengertian dan penguatan untuk Lelaki yang aku cintai itu-Papa.
Ia mendesah panjang, lalu melanjutkan lagi ucapannya.
"Nak, sudahlah. Ini adalah titik lelah Papa. Jika Mamamu minta diceraikan, maka Papa akan kabulkan."
Aku tercekat mendengar ucapan Papa. Tak ku sangka ia akan mengatakan hal itu.
"Jika kalian bercerai,lalu bagaimana kami bisa bersekolah?" Cegatku mengiba.
"Papa hanya bilang akan bercerai dengan Mamamu. Itu bukan berarti Papa akan berhenti menafkahi kalian. Bagaimana pun kalian semua harus sekolah tinggi-tinggi dan jadi orang sukses. Satu hal yang harus kau ingat Nak, sukses itu bukan berarti ketika memiliki harta yang melimpah. Tapi, bagaimana kau bisa bermanfaat bagi orang lain dan orang kecil yang membutuhkan bantuan."
"Nak, Papa tidak pernah mengharapkan pamrih dari kalian-anak Papa. Bagi Papa, kau hidup rukun dan saling menyayangi dengan adik-adikmu itu sudah cukup. Papa menyimpan harapan besar padamu karena pemikiranmu telah dewasa."
Hanya 30 menit 18 detik kami berbicara, setelah itu Papa mempersilahkanku untuk melanjutkan aktivitasku. Aku merasa ada batu besar yang bersarang ditenggorokanku.
Ku sadari memang, selama ini aku jarang sekali menelepon Papaku. Aku lebih sering menelepon Mama.
Itulah sebabnya aku tak pernah tahu apa isi hatinya. Selama ini yang selalu ku dengar adalah keluhan Mama.
Malam ini, Papa berbicara banyak padaku. Mungkin ada ketakutan dihatinya. Mungkin ada keraguan dihatinya.
Dalam diamnya selama ini, Papaku sangat terluka. Ia tegar tak mengeluarkan air mata dan terisak seperti Mama.
Papa, maafkan Mamaku. Besar rasa cintanya padamu lebih dari yang kau tahu. Hanya saja selama ini ia telah hidup dalam bayang-bayang ketakutan. Cintamu yang tulus akan mampu mengusir ketakutan itu. Bersabarlah sedikit Papa dan yakinkan dirinya bahwa kau tak gagal mencintainya.
I Love you Papa...
Makassar Jumat, 1 November 2013

Tidak ada komentar:
Posting Komentar