Rabu, 30 Oktober 2013

Dear Dad,

Aku tak tahu bagaimana cara untuk memberitahukan kepada Ayah, orang yang sangat ku cintai itu. 
Dear Dad...
Banyak hal yang sangat ingin ku sampaikan padamu, banyak hal yang telah lama ingin ku bagi denganmu. Tapi, kau terlalu jauh bagiku. Aku tak yakin kau akan mendengarkan omongan kecilku ini.
Ayah, sebenarnya telah beberapa kali aku menulis surat untukmu.  Di antara beberapa suratku itu, mungkin kau akan tercengang dan tak percaya jika Aku-anakmu sangat membenci sifatmu. 
Ayah, maafkan aku karena hanya mampu mengingat sedikit memori tentang bagaimana kau menyayangiku. Hingga saat aku menulis ini, aku masih berusaha mengingat bagaimana kau menyayangiku. Tapi, aku masih gagu untuk mengingatnya. 
Ayah, kemarin Ibu meneleponku. Dari nada bicaranya aku tahu ia sangat terluka. Aku hanya bisa  mendengar isak tangisnya. Ku dengarkan semua keluhannya yang selama ini telah dipendamnya demi Kami-anaknya. 
Ayah, tahukah kau?? Ibuku, adalah Wanita yang selama ini telah mengorbankan dirinya, mengubur harga dirinya ketika kau hanya mampu menghidupinya dengan deru kemiskinan.Dia-Ibuku, masih menggandengmu dengan mesra meski kau tak memberinya kebagiaan. Dia adalah satu-satunya wanita yang tetap menyalakan cintanya ketika kau memberinya kehidupan yang keras. Dia, adalah wanita yang telah puluhan tahun setia mendampingimu meski ucap, tangan dan kakimu telah tak terhitung menyakitinya.
Ayah, kemarin Ibu meneleponku. Dalam isak kepadihannya, ia katakan bahwa ingin meninggalkanmu, ingin meninggalkan kita.
Ayah, tahukah kau apa yang ku katakan padanya?? Ku katakan padanya "Pergilah. Aku pun tak mampu melihat beban yang selama ini telah kau emban selama puluhan tahun. Umurmu semakin tua, dan aku yakin kau tak akan sanggup lagi memikul beban itu. Pergilah..!!!" 

Ku ucapkan itu dengan penuh  kesadaran. Ucapan yang pernah ku katakan padanya ketika aku masih berumur 7 tahun. 
Dengan alasan yang sama, sekali lagi ia ingin meninggalkanmu, Ayah. 
Ayah, kau terlalu angkuh. Setelah menyakiti pernahkah kau meminta maaf pada Ibuku? 
Ayah, kubur saja sifat angkuhmu itu. Karena itu tak pantas untuk Kami teladani. 
Ayah, minta maaflah pada Wanita itu. Ia telah banyak berkorban untukmu. Ia rela tak mendapat restu dari orang tuanya demi memilihmu. Setidaknya, minta maaflah. 
Ayah, aku-anakmu sangat mencintaimu. Tapi Ayah, aku sangat membenci sifat angkuhmu.




Makassar
Rabu, 30 Oktober 2013

Tidak ada komentar: