Kamis, 14 April 2016

Kita dan 365 Hari

Pada 08 April 2015 lalu, kamu adalah seorang yang gigih mencerahkan rabunnya ingatanku tentangmu. Tentangmu yang pernah mengirim salam dikala aku masih bersama orang lain. Kau yang selalu bercerita tentang bagaimana rupaku kala itu, bahkan bentuk alisku pun masih kau ingat dengan pasti. Kau mengingat setiap detil diriki.
Lalu aku???
Aku tak mengenal siapa kamu.

Pada 08 April 2015 lalu, aku mengucap 'Basmalah' untuk meyakinkan diri. Kuiringkan nama Tuhan yang Maha Pengasih dan Penyayang, sekiranya cintamu adalah ketulusan maka biarlah Tuhan yang menghadirkan cintaku untukmu. Dengan menyebut namaNya yang agung, kuharapkan restuNya pada cinta kita.
Nama Tuhan yang begitu agung harus kulibatkan dalam kasih yang kita jalin, karena aku tak ingin terluka lagi. Meski kau yang memulai tapi kuinginkan Tuhan menumbuhkan cintaku sama besarnya dengan cintamu padaku. Biar Dia yang menyeimbang-selaraskan rasa kita. Tugas kita adalah terus mengayuh, menjaga keseimbangan tersebut agar tetap pada jalurnya.
365 hari telah berlalu, aku dan kamu yang menjadi kita. Hingga saat ini kita masih saling menjaga keseimbangan rasa, jalan yang kita tempuh masih panjang dan cukup terjal. Kita harus saling menguatkan untuk membuktikan bahwa Tuhan tidak salah telah merestui cinta kita. Berapa lama dan kapan, aku tak mempedulikannya. Kau mengatakan bahwa aku pantas menanyakannya karena kau sadari aku adalah wanita. Aku tak layak menunggumu yang masih merintis hidup dari nol.
Biar kukatakan padamu, dalam cinta aku tak membatasi diri sebagai wanita. Kulapangkan diriku sebagai seorang yang bebas dan merdeka. Jika hidupmu dimulai dari angka nol, maka biarkan aku disisimu sebagai angka satu.

365 hari berlalu. Kau mempertegas bahwa kau hanya sendiri. Kenyataan yang sudah kuketahui sejak awal. Entah apa maksudmu mempertegas kesendirianmu sebagai yatim piatu, apakah untuk menakutiku atau mengusirku??
Kau mengatakan bahwa jika menikahiku maka kau benar-benar berdiri sendiri tanpa keluarga yang akan membantu sepeserpun, karena mereka menginginkan pendamping yang sesuku denganmu, gadis berdarah Bugis.

Seseorang tanpa Bapak-tanpa Ibu. Seseorang yang hidup berlimpah duka, memendam sejuta luka, terombang-ambing dalamnya air mata. Seseorang itu mencintaiku.
Maka aku mencintaimu dengan segalanya.
Sejak awal aku telah jauh memahami arti 'sendiri'mu, tak perlu lagi kau jelaskan.

365 hari berlalu. Aku tak ingat pasti kapan tepatnya, tapi percayalah bahwa benar aku mencintaimu, segenap yang ada didirimu. Tak perlu kau jelaskan bagaimana dirimu, karena aku akan terus belajar memahami. Dan untuk hari-hari yang akan datang, tetaplah begitu. Tetaplah seperti 365 hari yang lalu.

Untukmu seseorang yang telah menemaniku dalam kasih selama 365 hari berlalu, TERIMA KASIH.
I Love U..!!

Tidak ada komentar: