“Bisunya
Gadis Berponi"
Gadis
berponi yang bisu.
Ia
duduk di sana, di ujung bangku yang dianggapnya terjauh.
Matanya
melayu semu nyaris pekat.
Gadis
berponi dalam pilu.
Tangan
mungilnya tak berdaya menghalau liar catut gagak yang legam pekat.
Lidahnya
telah kelu teriris pedang kematian asa.
Ia
berdarah dalam pelukan kasih yang hinadina.
Gadis
berponi dalam tangis tak berairmata.
Ia
telah duduk di sana, di ujung asa yang telah mengantarkannya pada kematian
kalbu.
Membatin
merisau dalam tanya yang takut untuk diucap.
Bagaimana
mengungkapkannya menjadi benar dan tak lagi terbata-bata.
Sedang
bibirnya masih beku membiru oleh lecut kenistaan.
Gadis
berponi dengan bibir yang gagu.
Ia
telah lelah berteriak dengan bibir yang terkatup rapat.
Ia
benar-benar lelah dan takut berada di ujung terjauh.
Sendirian,
gelisah, dan gemetar berbalur nestapa .
Ia
hanya mampu memberontak dalam doanya pada Tuhan.
Tuhan tolong aku.
Aku telah lama duduk
di sini, di ujung asa yang telah mengantarkanku pada kematian kalbu.
Aku lebih memilih
menjadi abu atau angin yang tak berwujud itu.
Aku takut hilang
meski aku telah binasa dalam pelukan kekasih yang nista.
Aku tak kuat untuk
menderita ketakutan lebih dari ini.
Setidaknya Tuhan,
tolonglah aku.
Meski aku hanya
angin atau abu.
Tuhan,
tolong dia.
Gadis berponi yang telah bisu itu.
Gadis berponi yang telah bisu itu.
Ia
telah menderita dalam nestapa yang tak usai.
Setidaknya
tolonglah dia.
Meski ia hanya angin atau abu.
Meski ia hanya angin atau abu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar