Jumat, 06 Juni 2014

Bisunya Gadis Berponi: Catatan tentang Temaramnya Lentera Kisah Anak Korban Pelecehan Seksual



“Bisunya Gadis Berponi"

Gadis berponi yang bisu.
Ia duduk di sana, di ujung bangku yang dianggapnya terjauh.
Matanya melayu semu nyaris pekat.

Gadis berponi dalam pilu.
Tangan mungilnya tak berdaya menghalau liar catut gagak yang legam pekat.
Lidahnya telah kelu teriris pedang kematian asa.
Ia berdarah dalam pelukan kasih yang hinadina.

Gadis berponi dalam tangis tak berairmata.
Ia telah duduk di sana, di ujung asa yang telah mengantarkannya pada kematian kalbu.
Membatin merisau dalam tanya yang takut untuk diucap.
Bagaimana mengungkapkannya menjadi benar dan tak lagi terbata-bata.
Sedang bibirnya masih beku membiru oleh lecut kenistaan.

Gadis berponi dengan bibir yang gagu.
Ia telah lelah berteriak dengan bibir yang terkatup rapat.
Ia benar-benar lelah dan takut berada di ujung terjauh.
Sendirian, gelisah, dan gemetar berbalur nestapa .
Ia hanya mampu memberontak dalam doanya pada Tuhan.

Tuhan tolong aku.
Aku telah lama duduk di sini, di ujung asa yang telah mengantarkanku pada kematian kalbu.
Aku lebih memilih menjadi abu atau angin yang tak berwujud itu.
Aku takut hilang meski aku telah binasa dalam pelukan kekasih yang nista.
Aku tak kuat untuk menderita ketakutan lebih dari ini.
Setidaknya Tuhan, tolonglah aku.
Meski aku hanya angin atau abu. 

Tuhan, tolong dia.
Gadis berponi yang telah bisu itu.
Ia telah menderita dalam nestapa yang tak usai.
Setidaknya tolonglah dia.
Meski ia hanya angin atau abu.

Tidak ada komentar: