Pendidikanku
adalah cemeti bagi Ayah untuk tetap menegapkan tubuh rentanya yang usang,
mencari dan mengumpulkan lembaran demi lembaran rupiah. Kulitnya kian legam
terbakar teriknya matahari, belum lagi lututnya yang sakit dan sudah terlihat
membengkak karena Reumatik. Tangannya pun demikian, mulai melepuh merapuh
mengikuti lunturnya lapisan kulit karena usia. Ia masih memaksakan pundaknya
menahan beban yang terkadang membuatnya harus beberapa kali berlutut. Tetesan peluhnya
menyemburat mematikan api egoisnya sebagai manusia biasa.
***
Akan
tetapi, belum lagi rupiah itu menjadi seikat, aku telah meneleponnya dan
menagihnya bak rentenir. Beberan alasan, beberapa diantaranya tidak masuk akal
dan hanya untuk memenuhi gairah pergaulanku yang kuliah di kota besar. Aku
ingin membeli itu, memakai itu, makan itu, mengendarai itu, memegang itu, dan
melakukan semua itu, seperti mereka, teman-temanku. Tentu saja tidak ku katakan
pada Ayah secara terus terang. Meski sebagai penjahat, tetap saja aku ingin
Ayah tetap percaya bahwa aku adalah anak manis penurut dan jujur.
Setelah
mengucapkan beberapa kalimat pendosa yang meminta ini dan itu, ku matikan
telepon dan kembali terbahak bak iblis. Aku tak gundah lagi, semua hasratku
bisa terpenuhi lagi karena Ayah akan mengirimiku uang.
***
Sebagai anggota organisasi kemahasiswaan, tentu setiap peringatan hari anti Korupsi yang jatuh pada 9 Desember harus ku ikuti. Aku harus berada disana untuk menyoraki, memaki, dan melindas ketamakan mereka, para koruptor keji itu.
***
Seorang teman, kami tak begitu akrab karena pergerakannya pasif. Ia bertanya padaku tentang “Apa arti Korupsi?” bagiku. Ku remehkan pertanyaannya dengan menyunggingkan senyum lenjeh, ku tinggikan nada ucapku agar ia segera surut dan mengakui kehebatanku.
Sebagai anggota organisasi kemahasiswaan, tentu setiap peringatan hari anti Korupsi yang jatuh pada 9 Desember harus ku ikuti. Aku harus berada disana untuk menyoraki, memaki, dan melindas ketamakan mereka, para koruptor keji itu.
***
Seorang teman, kami tak begitu akrab karena pergerakannya pasif. Ia bertanya padaku tentang “Apa arti Korupsi?” bagiku. Ku remehkan pertanyaannya dengan menyunggingkan senyum lenjeh, ku tinggikan nada ucapku agar ia segera surut dan mengakui kehebatanku.
***
Ia memberiku cermin besar, lalu ia berkata “Coba tanyakan
padanya tentang apa arti dari korupsi itu, bagaimana ia bermula, dan siapa yang
telah dibuatnya paling terluka?”. Sembari ia menunjuk bayang diriku yang
terpantul pada cermin itu.
Sejenak aku termenung!! Meresapi dan menggauli kembali
masa-masa hina yang pernah ku cipta.
***
Oh Ayah, maafkan aku!!!
Aku gemetar tak karuan, segenap tubuhku menggigil
ketakutan. Semburat keringat dingin seketika melumuri tubuhku. Ku bayangkan lagi
teriakan dan makianku pada para koruptor itu. Lalu diriku ini apa? Bukankah aku
sama keji dan nistanya dengan mereka?
Oh Ayah, maafkan aku!!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar