Kamis, 15 Mei 2014

Ayah, Maafkan Aku...



Pendidikanku adalah cemeti bagi Ayah untuk tetap menegapkan tubuh rentanya yang usang, mencari dan mengumpulkan lembaran demi lembaran rupiah. Kulitnya kian legam terbakar teriknya matahari, belum lagi lututnya yang sakit dan sudah terlihat membengkak karena Reumatik. Tangannya pun demikian, mulai melepuh merapuh mengikuti lunturnya lapisan kulit karena usia. Ia masih memaksakan pundaknya menahan beban yang terkadang membuatnya harus beberapa kali berlutut. Tetesan peluhnya menyemburat mematikan api egoisnya sebagai manusia biasa.
***
Akan tetapi, belum lagi rupiah itu menjadi seikat, aku telah meneleponnya dan menagihnya bak rentenir. Beberan alasan, beberapa diantaranya tidak masuk akal dan hanya untuk memenuhi gairah pergaulanku yang kuliah di kota besar. Aku ingin membeli itu, memakai itu, makan itu, mengendarai itu, memegang itu, dan melakukan semua itu, seperti mereka, teman-temanku. Tentu saja tidak ku katakan pada Ayah secara terus terang. Meski sebagai penjahat, tetap saja aku ingin Ayah tetap percaya bahwa aku adalah anak manis penurut dan jujur.
Setelah mengucapkan beberapa kalimat pendosa yang meminta ini dan itu, ku matikan telepon dan kembali terbahak bak iblis. Aku tak gundah lagi, semua hasratku bisa terpenuhi lagi karena Ayah akan mengirimiku uang.
                                                ***
          Sebagai anggota organisasi kemahasiswaan, tentu setiap peringatan hari anti Korupsi yang jatuh pada 9 Desember harus ku ikuti. Aku harus berada disana untuk menyoraki, memaki, dan melindas ketamakan mereka, para koruptor keji itu.  
                                                          ***
          Seorang teman, kami tak begitu akrab karena pergerakannya pasif. Ia bertanya padaku tentang “Apa arti Korupsi?” bagiku. Ku remehkan pertanyaannya dengan menyunggingkan senyum lenjeh, ku tinggikan nada ucapku agar ia segera surut dan mengakui kehebatanku.
***
          Ia memberiku cermin besar, lalu ia berkata “Coba tanyakan padanya tentang apa arti dari korupsi itu, bagaimana ia bermula, dan siapa yang telah dibuatnya paling terluka?”. Sembari ia menunjuk bayang diriku yang terpantul pada cermin itu.
          Sejenak aku termenung!! Meresapi dan menggauli kembali masa-masa hina yang pernah ku cipta.
                                                          ***
          Oh Ayah, maafkan aku!!!
          Aku gemetar tak karuan, segenap tubuhku menggigil ketakutan. Semburat keringat dingin seketika melumuri tubuhku. Ku bayangkan lagi teriakan dan makianku pada para koruptor itu. Lalu diriku ini apa? Bukankah aku sama keji dan nistanya dengan mereka?
          Oh Ayah, maafkan aku!!! 

Tidak ada komentar: