Kamis, 23 Januari 2014

Untukmu Mama...


Jam dinding itu masih seperti 18 tahun yang lalu, kacanya telah retak tapi masih berdetak menghitung barisan waktu yang ku lalui. Jam dinding itu adalah saksi bisu atas apa yang selama ini telah terjadi.
Kini usiaku telah berada di angka 32. Dalam deretan angka di jam dinding itu memang tak ada angka 32, tapi jam dinding itu telah menghitung setiap detik di hidupku hingga mencapai usia ini.
Jam dinding itu masih terpajang di tempat yang sama, di tiang yang kini telah usang. Jam dinding itu terlalu setia untuk tiang yang telah usang. Tiang itu kini mulai rapuh dan goyah, mungkin sebentar lagi akan rubuh dan menjadikan jam dinding itu rusak lebih parah.
Yaa... Mamaku adalah jam dinding itu.
Jam dinding yang retak itu adalah hasil perbuatanku kala aku berusia 15 tahun. Ketika itu, aku adalah sosok lelaki dewasa yang tangguh tetapi menyedihkan. Mungkin orang lain pada usia itu telah memberikan Mamanya emas. Sedangkan aku di usia itu telah menorehkan begitu banyak duka dan luka di hatinya.
Sebagai anak tunggal, aku telah hidup penuh kasih dari Mamaku. Sejak bercerai dari Papa, Mama menjadi single parent yang banting tulang berusaha memenuhi segala kebutuhan dan keinginanku. Beberapa hektare tanah telah dijual demi menjadikanku seorang Sarjana yang katanya terdidik. Otak yang cerdas, dan ambisius adalah sifat yang diturunkan Mama untukku, sedangkan temperament yang buruk dan egois adalah sifat yang ku warisi dari Papa. Semua sifat itu semakin menggila kala Papa dan Mama bercerai ketika aku duduk di bangku kelas 2 SMP.
Jika istri lain mendapat nafkah dari suami, maka Mama adalah hal yang sebaliknya. Papa tak memiliki keterampilan apa-apa, itulah yang menyebabkan Mama harus menggantikan Papa mencari nafkah, menyuapi dua orang lelaki dewasa yang perlahan telah membunuh keistimewaan kodratnya. Mama adalah seorang pelukis yang hebat. Hasil lukisan itu telah menghidupi keluarga ini selama beberapa tahun sebelum perceraian itu terjadi. Awalnya semua baik-baik saja. Hingga pada suatu malam, entah mengapa tiba-tiba ku dengar Mama menjerit berteriak kesakitan. Tak berselang lama, caci makian terlontar dari mulut keduanya, Papa dan Mama. Mereka saling mengumpat dan meracau kasar bak kesetanan.
“Malam ini kita bukan suami istri lagi!! Apa kau dengar itu?!!?? Haaa...??!!?” Itu adalah teriakan dari Papa. 
“Aku bukan lagi suamimu dan kau bukan lagi istriku.” Lanjut Papa lagi.
“Kau sudah khianat Nurumi. Aku menceraikanmu malam ini karena kau pengkhianat. Kau pembohong besar. Malam ini aku akan meninggalkanmu. Anggap saja aku tak pernah ada. Cam-kan itu..!!!” Itu adalah teriakan-teriakan Papa yang secara jelas telah menalak Mama.
Aku tak menyangka jika pertengkaran itu akan berbuah perceraian yang pahit. Mama masih terisak di kamarnya saat ku saksikan Papa memulai jejak kakinya meninggalkan Aku dan Mama. Beberapa kali ku coba untuk menahan langkah Papa, tapi tubuhku tersungkur lunglai di tanah karena tangan kekar Papa menghempaskanku.
Malam itu adalah malam yang kelam dan penuh kebencian. Papaku membenci Mama karena menurutnya Mama adalah seorang pengkhianat. Aku pun demikian. Aku mulai membenci Mama sejak malam itu karena ia tak berusaha menghentikan kepergian Papaku. Kebencianku semakin menjadi kala ku dengar kata Papa bahwa Mama adalah seorang pengkhianat. Malam itu, semua kepedihan ditanggung oleh Mama sendirian. Malam itu, ia ditinggalkan oleh suami. Malam itu, aku-anaknya membencinya secara buta.
 Sejak malam itu, aku tak pernah lagi bertemu Papa. Ia benar-benar telah meninggalkan kami. Tak ada harapan mereka untuk bersama lagi. Papa benar-benar menghilang, nomor handphone-nya tak lagi bisa dihubungi. Beberapa kali aku mencarinya di rumah Opa Wiyan-ibu dari Ayah- tapi tak pernah berhasil ku  temui. Sedangkan Mama, sejak malam pertengkaran itu, aku tak pernah lagi melihatnya melukis atau sekedar menatap kanvasnya. Aku masih tak peka akan kesakitan Mama kala itu.
Hingga suatu hari, ketika aku sedang sibuk mengikuti try out persiapan UNAS kelas 3 SMP, ku dengar kabar jika Papa telah menikah lagi dengan seorang PNS yang menjabat sebagai Kepala Sekolah. Kabar pernikahan Papa itu membakar emosiku, semakin membuatku membenci Mama setengah mati.
Praanggg...!!!
Itu adalah pecahan kaca dari jam dinding yang ku lempar dengan sepatu. Meski kacanya telah pecah berurai ke lantai, tapi body jam itu masih menepel di tiang. Aku menatap nanar penuh amarah ketika Mama menghampiri,  ingin mencari tahu apa yang terjadi denganku.
“Inikan yang Mama mau??? Mama tidak pernah mencari keberadaan Papa, sekarang Papa telah benar-benar pergi. Sekarang Papa telah menikah lagi dengan orang lain. Mama tidak pernah mengerti perasaanku.” Ucapku kala itu penuh amarah.
“Bahkan malam itu Mama tidak melarang Papa untuk jangan pergi. Atau jangan-jangan apa yang dikatakan Papa itu ada benarnya??!!?” Aku berteriak, meluapkan amarahku sejadi-jadinya dengan kata-kata yang tanpa ku sadari telah menyayat pilu hati Mamaku. Dengan langkah angkuh nan sombong, aku masuk ke dalam kamar dengan hati yang juga perih. Aku perih karena berpisah dari Papa.
“Kau belum dewasa untuk memahami arti dari pengkhianat, Bay.” Ucap Mama sambil memungut beling yang berserakan di lantai. Hatinya telah terluka sedemikian parahnya.
Yaa... Kala itu aku memang belumlah dewasa untuk mengerti arti pengkhianat. Aku belum dewasa untuk membaca keadaan yang sebenarnya.
     Kebencianku kepada Mama semakin memuncak seiring waktu. Aku melanjutkan studi hingga ke mendapat gelar Sarjana dengan peluh dan air mata Mama, tapi aku membencinya lebih dari aku membenci musuhku.
     Setelah mendapat gelar Sarjana Teknik dengan nilai Cumlaude, aku memutuskan untuk pergi dari rumah dan mencari hidup sendiri tanpa memikirkan perasaan Mama.
     “Mama tidak akan pernah membela diri atas apa yang telah terjadi. Mama juga tidak melarangmu untuk jika memang kau membenci Mama karena kehilangan Papa. Mama juga tidak akan melarangmu jika memang kau ingin menyempurnakan kebencianmu dengan pergi meninggalkan Mama. Meski sakit dan telah mendarah bernanah di hati, tapi Mama tidak akan pernah memintamu untuk mengerti atas apa yang telah terjadi. Bagi Mama, mungkin saat ini kau belumlah dewasa untuk memahami semuanya.” Itu adalah ucapan Mama ketika aku pamit pergi meninggalkan rumah. Sekali lagi, meski usiaku kala itu telah 23 tahun, tapi aku masih belum mengerti atas apa yang telah terjadi.
     Pada usia 23 itu, aku meninggalkan semua beban luka dan derita pada Mama. Aku segera menjadi arsitek sukses dan perlahan mulai melupakan kebencianku pada Mama dan kesedihanku ditinggal Papa. Kehidupanku telah berlimpah materi dan telah beberapa kali menjalin cinta dengan beberapa gadis di kota ini.
     Raeni adalah gadis yang ke sekian ku pacari. Kami terpaut usia 10 tahun dan telah berpacaran selama lebih kurang dua tahun. Ia wanita yang manis dan penyayang. Sifat dan tutur lembutnya selalu mampu meredam amarah dan temperamentalku yang buruk. Ia jenaka dan pandai merayu, meski demikian Raeni tetap kharismatik dan bersifat keibuan.  
     Kini usiaku 32 tahun sedangkan Raeni 23 tahun. Usia yang cukup matang untuk membina rumah tangga sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Papa dan Mamaku. Sekilas terbayang lagi ketakutan, kebencian, dan amarah yang pernah menggerogoti hati dan pemikiranku.
     Pernikahanku dengan Raeni tinggal menghitung hari. Segala pernak-pernik pernikahan telah disiapkan dengan matang, termasuk penyebaran undangan. Undangan lebih banyak dari pihak keluarga kekasihku, sedangkan aku hanya mengundang beberapa relasi dan sahabat serta family, termasuk Papa dan Mama.  Undangan untuk Papa ku antar lebih dulu, tapi berbalas kekecewaan. Papa telah 3 tahun berdomisili di Sorong, Papua. Ia benar-benar semakin jauh meninggalkanku, bahkan ia tak dapat menghadiri hari bersejarahku kali ini. Ia bahkan tak mengangkat teleponku ketika ku coba menghubunginya.
“Aakhhh..!! Aku benar-benar kecewa padamu Mama.” Gerutu ku dalam hati.
Praangg....!!
Ponsel yang baru ku beli seminggu yang lalu jatuh berantakan ke lantai beriringan dengan beling kaca dari jam dinding yang terpajang di tembok kamarku. Jarum jam dinding itu masih berdetak meski kaca yang melindunginya telah pecah tak berbentuk. Sekelebat ku ingat kejadian serupa. Kejadian 17 tahun yang lalu ketika sepatuku menghancurkan jam dinding Mama.
Aku tertegun mencari-cari kekuatan untuk mendamaikan perasaanku yang kacau. Beberapa kali aku meneguk air putih dan membasuh muka demi menghilangkan risau perih bathinku.
Tok..Tok..Tok...!!
Seseorang mengetuk pintu apartemenku. Aku melangkah gontai membukakan pintu untuk orang tersebut.
“Ada paket kiriman untuk Anda, Pak. Silahkan paraf disini sebagai bukti tanda terima.” Ucap pemuda pengantar kiriman tersebut seraya menyodorkan lembaran resi tanda terima yang harus ku paraf. Ku turuti saja instruksi dari pemuda tersebut dan membalas ucapan terima kasih darinya.
Ku perhatikan lagi paket kiriman yang baru saja ku terima itu, -“Cukup besar..!!”-batinku. Mata ku berusaha menemukan nama pengirim dari paket tersebut, tapi tak tertera sama sekali di bungkus paket itu. Akhirnya kuputuskan untuk membuka saja isinya, -“Toh paketnya buat aku”- batinku membela.  
Perlahan pembungkus paket itu mulai tersibak. Terlihat jelaslah isinya. Ternyata sebuah lukisan. Lukisan seorang pria berjanggut tipis yang sedang bermain dengan seorang anak laki-laki berbaju biru yang kira-kira berusia 8 tahun.
Seketika ku rasa aliran darahku berhenti, jantungku tak lagi berdetak.
Yaa... Itu adalah lukisan Papa dan aku saat bermain. Aku yang berbaju biru sangat nampak sangat gembira di lukisan itu. Anganku menerawang jauh menemukan kembali kenangan yang mulai pudar itu.
Kini kurasakan ada kristal bening yang kini mulai menyeruak dari sudut mataku. Seketika perasaanku mengharu biru.
Tok..Tok..Tok...!!
Seseorang kembali mengetuk pintu. Segera ku seka air mataku dan membukakan pintu untuk seseorang diluar sana. Pemuda yang sama tersenyum manis di depanku.
“Paketnya masih ada satu lagi, Pak.” Jelas pemuda tersebut.
“Tapi, yang tadi tidak ada nama pengirimnya. Apa Anda yakin paket itu untuk saya?” Tanya ku ragu.
“Iya benar, Pak. Paket yang ini ada nama pengirimnya kok. Orang yang mengirimkan paketnya juga sama kok.” Jelas pemuda tersebut.
“O..gitu yaa??!”
“Iyaa, terima kasih Pak. Permis...Mari!!” Pengantar paket itu menghilang dibelokan apartemen. Aku kembali masuk ke kamar. Aku penasaran dengan identitas si pengirim lukisan ini. Mataku lihai mencari identitas si pengirim.
Nurumi Riwa
Jl. Cempaka Putih No. 7
Makassar 90234

Nama yang tertera disana adalah nama Ibu, orang yang telah ku tinggalkan selama 10 tahun. Jantungku berdegup kencang, nafasku memburu bagai tersapu gelombang yang menghanyutkan. Perlahan ku buka kertas yang membungkus rapi paket kiriman itu. Isinya pun lukisan. Lukisan seorang pria yang sama sekali tak pernah ku kenal sebelumnya. Di balik lukisan itu ada sepucuk surat dari Mama.

Dear My Son, Bayu.

Sebelumnya Mama minta maaf dari lubuk hati yang paling dalam karena tidak dapat menghadiri pernikahanmu. Mama pikir kau tak akan sudi didampingi oleh Mama yang tidak berarti di matamu. Meski Mama tidak bisa menghadiri pernikahanmu, tapi Mama telah mengirimkanmu kado pernikahan. Meski tak pantas bagimu, tapi Mama tetap mengirim doa restu untukmu, Anakku-Bayu.
Katakanlah pada calon istrimu bahwa orang dalam lukisan yang selalu menemanimu bermain sejak umur 4 hingga 14 tahun  adalah seorang Papa yang sangat kau cintai. Mama tahu, kau sangat mencintai Papa. Semoga lukisan itu bisa mengobati kerinduanmu.
Tentu kau bertanya-tanya tentang siapa lelaki yang ada di lukisan kedua.
Itu adalah lukisan yang menjadikan Papa sebagai pengkhianat di mata Papa. Lelaki dalam lukisan itu adalah pemicu Papa dan Mama bercerai. Lelaki dalam lukisan itu adalah penyebab pasti mengapa Papa meninggalkanmu kala itu.
Bayu, anak Mama.
Kali ini dengarkanlah Mama. Kini kau telah dewasa dan sebentar lagi akan menikah. Kali ini Mama yakin kau akan mengerti tentang arti pengkhianatan dan pengorbanan.
Lelaki dalam lukisan itu adalah Om Liem. Ia adalah sahabat Mama sejak masih duduk di bangku sekolah dulu. Ia adalah seorang maestro pelukis. Dialah yang mengajarkan Mama melukis. Saat itu usiamu baru 2 tahun. Mama belajar dengan sungguh-sungguh agar bisa melukis dengan baik dan kau tentu tahu bahwa Mama berhasil.
Yaa.. Mama berhasil, Nak.
Sejak usiamu 3 tahun, kita makan dari uang hasil penjualan lukisan Mama. Beberapa kali Om Liem menawarkan agar Mama memamerkan lukisan Mama di galeri pamerannya, tapi Mama selalu menolak. Mama sangat menjaga perasaan Papamu. Olehnya, Mama merasa lebih baik menjajakan lukisan Mama di pasar dengan harga yang murah dari pada harus melukai perasaan Mama. Hasil lukisan telah menyuapi kita hingga malam perceraian itu.
Malam itu, Mama sangat marah karena Mama begadang hingga larut demi menyelesaikan lukisan lelaki itu. Papamu cemburu karena Mama telah melukis lelaki itu, sedangkan dia dan dirimu belum pernah ku lukis. Papa telah salah paham.
Lukisan lelaki itu awalnya Mama dedikasikan sebagai tanda hormat terakhir kepada Om Liem yang telah berpulang ke Rahmatullah beberapa hari sebelum pertengkaran hebat itu. Tapi Papamu telah terlanjur salah paham.
Mama telah menjelaskan sejujur-jujurnya ke Papa, tapi ia tetap ingin pergi. Terus terang, Mama sangat kecewa dan merasa putus asa. Mama merasa semua pengorbanan Mama tidak berarti di mata Papa dan kamu, Nak. Mama merasa tersakiti oleh keluarga yang selama ini Mama perjuangkan. Mama benar-benar kecewa, Nak.
Sejak Papa dan Bayu meninggalkan Mama, sejak itu pula Mama memilih untuk berhenti melukis. Mama tidak bisa lagi melukis, karena Mama sudah kehilangan cinta yang selama ini telah menjadi inspirasi Mama dalam berkarya.
Papa telah menumpahkan cairan tuba di kanvas pengorbanan Mama, sedangkan Bayu-anak Mama- telah mematahkan kuas kepercayaan Mama. Lalu bagaimana Ibu masih bisa melukis, Nak???
Bayu...
Sebenarnya lukisan tentang Papa dan kamu itu, Mama persembahkan sebagai kado Ul-tahmu yang ke 14 kala itu. Tapi keadaan telah berubah.
Sekarang lukisan itu Mama persembahkan sebagai Kado pernikahanmu. Semoga kebencianmu ke Mama bisa berkurang.
Mama selalu mendoakan yang terbaik untukmu, Nak.

Wassalam.
Mama

Bibirku terkatup bisu usai membaca selebaran surat Mama yang berkisah cukup panjang. Apa yang telah ku perbuat pada wanita ini? Betapa aku adalah anak durhaka.
Bulir kristal menghangat, jatuh berderai membanjiri pipiku. Aku tak pernah menangis sesedu ini. Selama ini aku hanya menangis ketika marah. Selama ini aku menangis karena Ayah, tak sekali pun aku menangis untuk Mama. Isak tangisku kali ini begitu menyiksa. Sesak di dada bagai terhimpit bumi. Aku meraung seakan ingin melepas tindihan dosa yang tiba-tiba saja baru ku rasakan setelah sekian lama melakukannya.
Lama ku sesali perbuatanku pada wanita ini-Mamaku. Wanita yang selama ini memberiku kehidupan sejak aku masih dalam kandungannya.
Tidak. Tidak benar. Aku lebih jahat dari itu. Sejak menjadi janin aku telah merebut haknya. Aku telah merampas kebahagiaannya. Oh, betapa durhakanya diriku.
Wanita itu telah mengorbankan hidupnya untuk mengabdi pada dua orang lelaki tangguh yang angkuh. Wanita itu –Mamaku- memilih mengalah dan berjuang untuk menyuapi dua orang lelaki yang tangguh nan angkuh. Ia memilih terbakar dan menjadi abu kala dua orang lelaki angkuh itu menghanguskan harapan dan pengorbanannya dengan prasangka nista. Dua orang manusia tangguh itu tanpa sadar telah menyemaikan benih-benih kematian di hati wanita itu, sedang dia -Mamaku- mengubur duka laranya atas nama cinta.
Betapa ia telah terluka. Entah telah berapa luka yang ku sayatkan di hatinya. Ia telah menyimpannya sendiri, segala luka, duka, harapan dan cinta.
Lama. Lama sekali aku terpekur, larut dalam penyesalan dan kesedihan tiada tara.
Ku pandangi lagi lukisan Mama yang menceritakan betapa ia sangat mencintai Papa dan aku. Di sudut lukisan itu samar-samar tertera tanggal ciptanya, 18 Maret 1995. Tanggal itu adalah ulang tahunku yang ke-14. Lukisan ini mestinya telah ku terima sejak 18 tahun lalu. Lagi, Mama menunjukkan cintanya untukku.
Tak ingin membuang waktu untuk menebus dosa, segera ku pesan tiket tujuan Makassar saat itu juga. Aku tak ingin mengulur waktu lagi demi meraih kembali cinta Mama.
Kini, aki berdiri disini, di rumah Mama. Mataku masih terpaku menerawang kenangan pahit pada jam dinding yang retak, jam dinding milik Mama yang dulu ku hancurkan penuh kebencian. Oh, betapa aku adalah anak yang sangat menyedihkan. Mata sembabku kembali sedu sedan.
“Bayu??? Anak Mama-kah itu???” Suara parau basah itu langsung ku kenali, itu suara Mama. Ia menurunkan sedikit kaca matanya, memastikan penglihatannya yang tertuju padaku. Bagaimana bisa Mama masih bisa mengenaliku dengan mata buramnya?
Tenggorokanku tercekat mendapati sosok Mama yang berdiri tergopoh dengan balutan syal motif kembang-kembang yang melingkari lehernya. Beberapa uban telah memahkotai kepalanya. Tubuhnya kurus meski kulitnya masih nampak kencang membalut. Tampak Mamaku telah menua.
     “Mamaaa..!!” Setengah berteriak segera ku peluk wanita yang mulai renta itu –Mama.
     Dia Mamaku. Wanita yang telah lama ini kucampakkan penuh kebencian.  Wanita yang mampu mengenaliku dengan sempurna meski telah 18 tahun tak pernah bersua. Wanita yang masih menyebut sempurna namaku meski telah lama kutinggalkan dalam kepedihan. Dia Mamaku.
     “Nu Bayu Zak.. Anak Mama..!!” Ucapnya menyebut namaku penuh kerinduan. Tangannya tak berhenti mengusap punggungku diiringi haru yang mengisak.
     “Maafkan Bayu, Ma. Maafkan Bayu untuk semuanya..” Hanya kalimat itu yang mampu kuucapkan pada wanita ini. Maaf pun tak akan cukup menyembuhkan lukanya.
     Lama sekali. Setelah sekian lama aku baru merasakan kembali hangatnya pelukan Mama yang dulu kuhempaskan.
     “Kenapa baru pulang sekarang Nak? Kenapa kau terlalu lama?” Mamaku yang merindu bertanya mengisyaratkan betapa selama ini ia telah pilu menunggu.
     “Maafkan Bayu, Ma. Bayu telah berdosa meninggalkan Mama sendiri. Bayu sangat menyesal. Maafkan Bayu, Ma...!!” Aku terisak sejadinya,mengungkap segala penyesalanku.
     “Tidak, Nak. Justru Mama yang harus minta maaf. Mestinya Mama gak biarin Bayu pergi. Mestinya Mama mencari Bayu. Mama yang salah Nak, maafkan Mama sayang...” Lagi-lagi Mama menunjukkan cintanya yang tak mungkin lagi terbantahkan.
     Kini telah luruh beban nestapa yang lama terbendung. Yang harus ku lakukan adalah menabur cinta kasih untuk Mama, menebus dosa agar nestapa dihati segera berlalu.
     Padamu Mama, jangan bosan mencintaiku. Aku tak bisa menjanjikanmu emas permata, tapi aku berjanji untuk menghidupimu dengan asa dan puisi cinta.
    
*intermission





   

      
.

                .

Tidak ada komentar: