Jam
dinding itu masih seperti 18 tahun yang lalu, kacanya telah retak tapi masih
berdetak menghitung barisan waktu yang ku lalui. Jam dinding itu adalah saksi
bisu atas apa yang selama ini telah terjadi.
Kini
usiaku telah berada di angka 32. Dalam deretan angka di jam dinding itu memang
tak ada angka 32, tapi jam dinding itu telah menghitung setiap detik di hidupku
hingga mencapai usia ini.
Jam
dinding itu masih terpajang di tempat yang sama, di tiang yang kini telah
usang. Jam dinding itu terlalu setia untuk tiang yang telah usang. Tiang itu
kini mulai rapuh dan goyah, mungkin sebentar lagi akan rubuh dan menjadikan jam
dinding itu rusak lebih parah.
Yaa...
Mamaku adalah jam dinding itu.
Jam
dinding yang retak itu adalah hasil perbuatanku kala aku berusia 15 tahun.
Ketika itu, aku adalah sosok lelaki dewasa yang tangguh tetapi menyedihkan.
Mungkin orang lain pada usia itu telah memberikan Mamanya emas. Sedangkan aku
di usia itu telah menorehkan begitu banyak duka dan luka di hatinya.
Sebagai
anak tunggal, aku telah hidup penuh kasih dari Mamaku. Sejak bercerai dari Papa,
Mama menjadi single parent yang
banting tulang berusaha memenuhi segala kebutuhan dan keinginanku. Beberapa
hektare tanah telah dijual demi menjadikanku seorang Sarjana yang katanya terdidik.
Otak yang cerdas, dan ambisius adalah sifat yang diturunkan Mama untukku,
sedangkan temperament yang buruk dan egois adalah sifat yang ku warisi dari Papa.
Semua sifat itu semakin menggila kala Papa dan Mama bercerai ketika aku duduk
di bangku kelas 2 SMP.
Jika
istri lain mendapat nafkah dari suami, maka Mama adalah hal yang sebaliknya. Papa
tak memiliki keterampilan apa-apa, itulah yang menyebabkan Mama harus
menggantikan Papa mencari nafkah, menyuapi dua orang lelaki dewasa yang perlahan
telah membunuh keistimewaan kodratnya. Mama adalah seorang pelukis yang hebat.
Hasil lukisan itu telah menghidupi keluarga ini selama beberapa tahun sebelum
perceraian itu terjadi. Awalnya semua baik-baik saja. Hingga pada suatu malam,
entah mengapa tiba-tiba ku dengar Mama menjerit berteriak kesakitan. Tak
berselang lama, caci makian terlontar dari mulut keduanya, Papa dan Mama.
Mereka saling mengumpat dan meracau kasar bak kesetanan.
“Malam
ini kita bukan suami istri lagi!! Apa kau dengar itu?!!?? Haaa...??!!?” Itu
adalah teriakan dari Papa.
“Aku
bukan lagi suamimu dan kau bukan lagi istriku.” Lanjut Papa lagi.
“Kau
sudah khianat Nurumi. Aku menceraikanmu malam ini karena kau pengkhianat. Kau
pembohong besar. Malam ini aku akan meninggalkanmu. Anggap saja aku tak pernah
ada. Cam-kan itu..!!!” Itu adalah teriakan-teriakan Papa yang secara jelas
telah menalak Mama.
Aku
tak menyangka jika pertengkaran itu akan berbuah perceraian yang pahit. Mama
masih terisak di kamarnya saat ku saksikan Papa memulai jejak kakinya
meninggalkan Aku dan Mama. Beberapa kali ku coba untuk menahan langkah Papa,
tapi tubuhku tersungkur lunglai di tanah karena tangan kekar Papa
menghempaskanku.
Malam
itu adalah malam yang kelam dan penuh kebencian. Papaku membenci Mama karena
menurutnya Mama adalah seorang pengkhianat. Aku pun demikian. Aku mulai
membenci Mama sejak malam itu karena ia tak berusaha menghentikan kepergian Papaku.
Kebencianku semakin menjadi kala ku dengar kata Papa bahwa Mama adalah seorang
pengkhianat. Malam itu, semua kepedihan ditanggung oleh Mama sendirian. Malam
itu, ia ditinggalkan oleh suami. Malam itu, aku-anaknya membencinya secara
buta.
Sejak malam itu, aku tak pernah lagi bertemu Papa.
Ia benar-benar telah meninggalkan kami. Tak ada harapan mereka untuk bersama
lagi. Papa benar-benar menghilang, nomor handphone-nya
tak lagi bisa dihubungi. Beberapa kali aku mencarinya di rumah Opa Wiyan-ibu dari Ayah- tapi tak pernah berhasil
ku temui. Sedangkan Mama, sejak malam
pertengkaran itu, aku tak pernah lagi melihatnya melukis atau sekedar menatap
kanvasnya. Aku masih tak peka akan kesakitan Mama kala itu.
Hingga
suatu hari, ketika aku sedang sibuk mengikuti try out persiapan UNAS kelas 3 SMP, ku dengar kabar jika Papa telah
menikah lagi dengan seorang PNS yang menjabat sebagai Kepala Sekolah. Kabar
pernikahan Papa itu membakar emosiku, semakin membuatku membenci Mama setengah
mati.
Praanggg...!!!
Itu
adalah pecahan kaca dari jam dinding yang ku lempar dengan sepatu. Meski
kacanya telah pecah berurai ke lantai, tapi body
jam itu masih menepel di tiang. Aku menatap nanar penuh amarah ketika Mama
menghampiri, ingin mencari tahu apa yang
terjadi denganku.
“Inikan
yang Mama mau??? Mama tidak pernah mencari keberadaan Papa, sekarang Papa telah
benar-benar pergi. Sekarang Papa telah menikah lagi dengan orang lain. Mama
tidak pernah mengerti perasaanku.” Ucapku kala itu penuh amarah.
“Bahkan
malam itu Mama tidak melarang Papa untuk jangan pergi. Atau jangan-jangan apa
yang dikatakan Papa itu ada benarnya??!!?” Aku berteriak, meluapkan amarahku
sejadi-jadinya dengan kata-kata yang tanpa ku sadari telah menyayat pilu hati Mamaku.
Dengan langkah angkuh nan sombong, aku masuk ke dalam kamar dengan hati yang
juga perih. Aku perih karena berpisah dari Papa.
“Kau
belum dewasa untuk memahami arti dari pengkhianat, Bay.” Ucap Mama sambil memungut
beling yang berserakan di lantai. Hatinya telah terluka sedemikian parahnya.
Yaa...
Kala itu aku memang belumlah dewasa untuk mengerti arti pengkhianat. Aku belum
dewasa untuk membaca keadaan yang sebenarnya.
Kebencianku kepada Mama semakin memuncak
seiring waktu. Aku melanjutkan studi hingga ke mendapat gelar Sarjana dengan peluh
dan air mata Mama, tapi aku membencinya lebih dari aku membenci musuhku.
Setelah mendapat gelar Sarjana Teknik
dengan nilai Cumlaude, aku memutuskan
untuk pergi dari rumah dan mencari hidup sendiri tanpa memikirkan perasaan Mama.
“Mama tidak akan pernah membela diri atas
apa yang telah terjadi. Mama juga tidak melarangmu untuk jika memang kau
membenci Mama karena kehilangan Papa. Mama juga tidak akan melarangmu jika
memang kau ingin menyempurnakan kebencianmu dengan pergi meninggalkan Mama.
Meski sakit dan telah mendarah bernanah di hati, tapi Mama tidak akan pernah
memintamu untuk mengerti atas apa yang telah terjadi. Bagi Mama, mungkin saat
ini kau belumlah dewasa untuk memahami semuanya.” Itu adalah ucapan Mama ketika
aku pamit pergi meninggalkan rumah. Sekali lagi, meski usiaku kala itu telah 23
tahun, tapi aku masih belum mengerti atas apa yang telah terjadi.
Pada usia 23 itu, aku meninggalkan semua
beban luka dan derita pada Mama. Aku segera menjadi arsitek sukses dan perlahan
mulai melupakan kebencianku pada Mama dan kesedihanku ditinggal Papa.
Kehidupanku telah berlimpah materi dan telah beberapa kali menjalin cinta
dengan beberapa gadis di kota ini.
Raeni adalah gadis yang ke sekian ku
pacari. Kami terpaut usia 10 tahun dan telah berpacaran selama lebih kurang dua
tahun. Ia wanita yang manis dan penyayang. Sifat dan tutur lembutnya selalu mampu
meredam amarah dan temperamentalku yang buruk. Ia jenaka dan pandai merayu,
meski demikian Raeni tetap kharismatik dan bersifat keibuan.
Kini usiaku 32 tahun sedangkan Raeni 23
tahun. Usia yang cukup matang untuk membina rumah tangga sebagaimana yang
pernah dilakukan oleh Papa dan Mamaku. Sekilas terbayang lagi ketakutan,
kebencian, dan amarah yang pernah menggerogoti hati dan pemikiranku.
Pernikahanku dengan Raeni tinggal
menghitung hari. Segala pernak-pernik pernikahan telah disiapkan dengan matang,
termasuk penyebaran undangan. Undangan lebih banyak dari pihak keluarga
kekasihku, sedangkan aku hanya mengundang beberapa relasi dan sahabat serta family, termasuk Papa dan Mama. Undangan untuk Papa ku antar lebih dulu, tapi
berbalas kekecewaan. Papa telah 3 tahun berdomisili di Sorong, Papua. Ia
benar-benar semakin jauh meninggalkanku, bahkan ia tak dapat menghadiri hari
bersejarahku kali ini. Ia bahkan tak mengangkat teleponku ketika ku coba
menghubunginya.
“Aakhhh..!!
Aku benar-benar kecewa padamu Mama.” Gerutu ku dalam hati.
Praangg....!!
Ponsel
yang baru ku beli seminggu yang lalu jatuh berantakan ke lantai beriringan
dengan beling kaca dari jam dinding yang terpajang di tembok kamarku. Jarum jam
dinding itu masih berdetak meski kaca yang melindunginya telah pecah tak
berbentuk. Sekelebat ku ingat kejadian serupa. Kejadian 17 tahun yang lalu
ketika sepatuku menghancurkan jam dinding Mama.
Aku
tertegun mencari-cari kekuatan untuk mendamaikan perasaanku yang kacau.
Beberapa kali aku meneguk air putih dan membasuh muka demi menghilangkan risau
perih bathinku.
Tok..Tok..Tok...!!
Seseorang
mengetuk pintu apartemenku. Aku melangkah gontai membukakan pintu untuk orang
tersebut.
“Ada
paket kiriman untuk Anda, Pak. Silahkan paraf disini sebagai bukti tanda
terima.” Ucap pemuda pengantar kiriman tersebut seraya menyodorkan lembaran
resi tanda terima yang harus ku paraf. Ku turuti saja instruksi dari pemuda
tersebut dan membalas ucapan terima kasih darinya.
Ku
perhatikan lagi paket kiriman yang baru saja ku terima itu, -“Cukup besar..!!”-batinku.
Mata ku berusaha menemukan nama pengirim dari paket tersebut, tapi tak tertera
sama sekali di bungkus paket itu. Akhirnya kuputuskan untuk membuka saja
isinya, -“Toh paketnya buat aku”- batinku membela.
Perlahan
pembungkus paket itu mulai tersibak. Terlihat jelaslah isinya. Ternyata sebuah
lukisan. Lukisan seorang pria berjanggut tipis yang sedang bermain dengan
seorang anak laki-laki berbaju biru yang kira-kira berusia 8 tahun.
Seketika
ku rasa aliran darahku berhenti, jantungku tak lagi berdetak.
Yaa...
Itu adalah lukisan Papa dan aku saat bermain. Aku yang berbaju biru sangat
nampak sangat gembira di lukisan itu. Anganku menerawang jauh menemukan kembali
kenangan yang mulai pudar itu.
Kini
kurasakan ada kristal bening yang kini mulai menyeruak dari sudut mataku.
Seketika perasaanku mengharu biru.
Tok..Tok..Tok...!!
Seseorang
kembali mengetuk pintu. Segera ku seka air mataku dan membukakan pintu untuk
seseorang diluar sana. Pemuda yang sama tersenyum manis di depanku.
“Paketnya
masih ada satu lagi, Pak.” Jelas pemuda tersebut.
“Tapi,
yang tadi tidak ada nama pengirimnya. Apa Anda yakin paket itu untuk saya?”
Tanya ku ragu.
“Iya
benar, Pak. Paket yang ini ada nama pengirimnya kok. Orang yang mengirimkan
paketnya juga sama kok.” Jelas pemuda tersebut.
“O..gitu
yaa??!”
“Iyaa,
terima kasih Pak. Permis...Mari!!” Pengantar paket itu menghilang dibelokan apartemen.
Aku kembali masuk ke kamar. Aku penasaran dengan identitas si pengirim lukisan
ini. Mataku lihai mencari identitas si pengirim.
Nurumi Riwa
Jl. Cempaka Putih No. 7
Makassar 90234
Nama
yang tertera disana adalah nama Ibu, orang yang telah ku tinggalkan selama 10
tahun. Jantungku berdegup kencang, nafasku memburu bagai tersapu gelombang yang
menghanyutkan. Perlahan ku buka kertas yang membungkus rapi paket kiriman itu.
Isinya pun lukisan. Lukisan seorang pria yang sama sekali tak pernah ku kenal
sebelumnya. Di balik lukisan itu ada sepucuk surat dari Mama.
Dear
My Son, Bayu.
Sebelumnya
Mama minta
maaf dari lubuk hati yang paling dalam karena tidak dapat menghadiri
pernikahanmu. Mama pikir kau tak akan sudi didampingi oleh Mama yang
tidak berarti di matamu. Meski Mama tidak bisa menghadiri pernikahanmu, tapi Mama
telah mengirimkanmu kado pernikahan. Meski tak pantas bagimu, tapi Mama tetap
mengirim doa restu untukmu, Anakku-Bayu.
Katakanlah pada calon istrimu
bahwa orang dalam lukisan yang selalu menemanimu bermain sejak umur 4 hingga 14
tahun adalah seorang Papa yang sangat
kau cintai. Mama tahu, kau sangat mencintai Papa. Semoga lukisan itu bisa
mengobati kerinduanmu.
Tentu kau bertanya-tanya
tentang siapa lelaki yang ada di lukisan kedua.
Itu adalah lukisan yang
menjadikan Papa sebagai pengkhianat di mata Papa. Lelaki dalam lukisan itu
adalah pemicu Papa dan Mama bercerai. Lelaki dalam lukisan itu adalah penyebab
pasti mengapa Papa meninggalkanmu kala itu.
Bayu, anak Mama.
Kali ini dengarkanlah Mama.
Kini kau telah dewasa dan sebentar lagi akan menikah. Kali ini Mama yakin kau
akan mengerti tentang arti pengkhianatan dan pengorbanan.
Lelaki dalam lukisan itu
adalah Om Liem. Ia adalah sahabat Mama sejak masih duduk di bangku sekolah dulu.
Ia adalah seorang maestro pelukis. Dialah yang mengajarkan Mama melukis. Saat
itu usiamu baru 2 tahun. Mama belajar dengan sungguh-sungguh agar bisa melukis
dengan baik dan kau tentu tahu bahwa Mama berhasil.
Yaa.. Mama berhasil, Nak.
Sejak usiamu 3 tahun, kita
makan dari uang hasil penjualan lukisan Mama. Beberapa kali Om Liem menawarkan
agar Mama memamerkan lukisan Mama di galeri pamerannya, tapi Mama selalu
menolak. Mama sangat menjaga perasaan Papamu. Olehnya, Mama merasa lebih baik
menjajakan lukisan Mama di pasar dengan harga yang murah dari pada harus
melukai perasaan Mama. Hasil lukisan telah menyuapi kita hingga malam
perceraian itu.
Malam itu, Mama sangat marah
karena Mama begadang hingga larut demi menyelesaikan lukisan lelaki itu. Papamu
cemburu karena Mama telah melukis lelaki itu, sedangkan dia dan dirimu belum
pernah ku lukis. Papa telah salah paham.
Lukisan lelaki itu awalnya Mama
dedikasikan sebagai tanda hormat terakhir kepada Om Liem yang telah berpulang
ke Rahmatullah beberapa hari sebelum pertengkaran hebat itu. Tapi Papamu telah
terlanjur salah paham.
Mama telah menjelaskan
sejujur-jujurnya ke Papa, tapi ia tetap ingin pergi. Terus terang, Mama sangat
kecewa dan merasa putus asa. Mama merasa semua pengorbanan Mama tidak berarti
di mata Papa dan kamu, Nak. Mama merasa tersakiti oleh keluarga yang selama ini
Mama perjuangkan. Mama benar-benar kecewa, Nak.
Sejak Papa dan Bayu
meninggalkan Mama, sejak itu pula Mama memilih untuk berhenti melukis. Mama
tidak bisa lagi melukis, karena Mama sudah kehilangan cinta yang selama ini
telah menjadi inspirasi Mama dalam berkarya.
Papa telah menumpahkan cairan
tuba di kanvas pengorbanan Mama, sedangkan Bayu-anak Mama- telah mematahkan
kuas kepercayaan Mama. Lalu bagaimana Ibu masih bisa melukis, Nak???
Bayu...
Sebenarnya lukisan tentang Papa
dan kamu itu, Mama persembahkan sebagai kado Ul-tahmu yang ke 14 kala itu. Tapi
keadaan telah berubah.
Sekarang lukisan itu Mama
persembahkan sebagai Kado pernikahanmu. Semoga kebencianmu ke Mama bisa
berkurang.
Mama selalu mendoakan yang
terbaik untukmu, Nak.
Wassalam.
Mama
Bibirku
terkatup bisu usai membaca selebaran surat Mama yang berkisah cukup panjang. Apa
yang telah ku perbuat pada wanita ini? Betapa aku adalah anak durhaka.
Bulir
kristal menghangat, jatuh berderai membanjiri pipiku. Aku tak pernah menangis
sesedu ini. Selama ini aku hanya menangis ketika marah. Selama ini aku menangis
karena Ayah, tak sekali pun aku menangis untuk Mama. Isak tangisku kali ini
begitu menyiksa. Sesak di dada bagai terhimpit bumi. Aku meraung seakan ingin
melepas tindihan dosa yang tiba-tiba saja baru ku rasakan setelah sekian lama
melakukannya.
Lama
ku sesali perbuatanku pada wanita ini-Mamaku.
Wanita yang selama ini memberiku kehidupan sejak aku masih dalam kandungannya.
Tidak.
Tidak benar. Aku lebih jahat dari itu. Sejak menjadi janin aku telah merebut
haknya. Aku telah merampas kebahagiaannya. Oh, betapa durhakanya diriku.
Wanita
itu telah mengorbankan hidupnya untuk mengabdi pada dua orang lelaki tangguh
yang angkuh. Wanita itu –Mamaku-
memilih mengalah dan berjuang untuk menyuapi dua orang lelaki yang tangguh nan
angkuh. Ia memilih terbakar dan menjadi abu kala dua orang lelaki angkuh itu
menghanguskan harapan dan pengorbanannya dengan prasangka nista. Dua orang
manusia tangguh itu tanpa sadar telah menyemaikan benih-benih kematian di hati
wanita itu, sedang dia -Mamaku-
mengubur duka laranya atas nama cinta.
Betapa
ia telah terluka. Entah telah berapa luka yang ku sayatkan di hatinya. Ia telah
menyimpannya sendiri, segala luka, duka, harapan dan cinta.
Lama.
Lama sekali aku terpekur, larut dalam penyesalan dan kesedihan tiada tara.
Ku
pandangi lagi lukisan Mama yang menceritakan betapa ia sangat mencintai Papa
dan aku. Di sudut lukisan itu samar-samar tertera tanggal ciptanya, 18 Maret
1995. Tanggal itu adalah ulang tahunku yang ke-14. Lukisan ini mestinya telah
ku terima sejak 18 tahun lalu. Lagi, Mama menunjukkan cintanya untukku.
Tak
ingin membuang waktu untuk menebus dosa, segera ku pesan tiket tujuan Makassar
saat itu juga. Aku tak ingin mengulur waktu lagi demi meraih kembali cinta
Mama.
Kini,
aki berdiri disini, di rumah Mama. Mataku masih terpaku menerawang kenangan
pahit pada jam dinding yang retak, jam dinding milik Mama yang dulu ku
hancurkan penuh kebencian. Oh, betapa aku adalah anak yang sangat menyedihkan.
Mata sembabku kembali sedu sedan.
“Bayu???
Anak Mama-kah itu???” Suara parau basah itu langsung ku kenali, itu suara Mama.
Ia menurunkan sedikit kaca matanya, memastikan penglihatannya yang tertuju
padaku. Bagaimana bisa Mama masih bisa mengenaliku dengan mata buramnya?
Tenggorokanku
tercekat mendapati sosok Mama yang berdiri tergopoh dengan balutan syal motif
kembang-kembang yang melingkari lehernya. Beberapa uban telah memahkotai
kepalanya. Tubuhnya kurus meski kulitnya masih nampak kencang membalut. Tampak
Mamaku telah menua.
“Mamaaa..!!” Setengah berteriak segera ku
peluk wanita yang mulai renta itu –Mama.
Dia Mamaku. Wanita yang telah lama ini
kucampakkan penuh kebencian. Wanita yang
mampu mengenaliku dengan sempurna meski telah 18 tahun tak pernah bersua.
Wanita yang masih menyebut sempurna namaku meski telah lama kutinggalkan dalam
kepedihan. Dia Mamaku.
“Nu Bayu Zak.. Anak Mama..!!” Ucapnya
menyebut namaku penuh kerinduan. Tangannya tak berhenti mengusap punggungku
diiringi haru yang mengisak.
“Maafkan Bayu, Ma. Maafkan Bayu untuk
semuanya..” Hanya kalimat itu yang mampu kuucapkan pada wanita ini. Maaf pun
tak akan cukup menyembuhkan lukanya.
Lama sekali. Setelah sekian lama aku baru
merasakan kembali hangatnya pelukan Mama yang dulu kuhempaskan.
“Kenapa baru pulang sekarang Nak? Kenapa
kau terlalu lama?” Mamaku yang merindu bertanya mengisyaratkan betapa selama
ini ia telah pilu menunggu.
“Maafkan Bayu, Ma. Bayu telah berdosa
meninggalkan Mama sendiri. Bayu sangat menyesal. Maafkan Bayu, Ma...!!” Aku
terisak sejadinya,mengungkap segala penyesalanku.
“Tidak, Nak. Justru Mama yang harus minta
maaf. Mestinya Mama gak biarin Bayu pergi. Mestinya Mama mencari Bayu. Mama
yang salah Nak, maafkan Mama sayang...” Lagi-lagi Mama menunjukkan cintanya
yang tak mungkin lagi terbantahkan.
Kini telah luruh beban nestapa yang lama
terbendung. Yang harus ku lakukan adalah menabur cinta kasih untuk Mama,
menebus dosa agar nestapa dihati segera berlalu.
Padamu
Mama, jangan bosan mencintaiku. Aku tak bisa menjanjikanmu emas permata, tapi
aku berjanji untuk menghidupimu dengan asa dan puisi cinta.
*intermission
.
.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar