Lama rasanya aku menimbang-nimbang untuk menuliskan ini. Tapi ini adalah sebagian alasan mengapa aku sangat tak ingin pulang dan tinggal di kampung sesuai keinginan keluarga, terutama Papa.
Pertama kali menapakkan jejak di kota Makassar pada 22 Juli 2007 silam, keadaan hati dan mentalku tidaklah begitu baik, bahkan sangat buruk. Papa adalah orang yang sangat tidak merestui perantauanku, alasannya karena beliau merasa masih mampu untuk mewujudkan cita-citaku, membiayai kuliah di PTN. Aku tahu bagaimana Papa, beliau adalah orang yang rela mati demi harga diri. Jika tetap bersikeras untuk pergi, maka itu berarti aku telah melukai harga diri beliau. Akan tetapi jika aku mengikuti kehendak beliau, maka aku harus mengubur cita-citaku.
Waktu itu aku telah pasrah dengan kemungkinan kandasnya cita-cita perantauanku, karena hingga 4 hari sebelum keberangkatan yang kurencanakan, Papa belum juga memberikan restunya. Beliau tetap kekeuh dengan keputusannya. Yah, itulah Papaku, hitam tak akan pernah berubah putih.
Hingga akhirnya terjadilah insiden yang membuatku trauma dan nekad mengambil keputusan tanpa peduli dengan restu Papa.
Yah, 3 hari sebelumnya aku bertengkar hebat dengan Kakakku. Pertengkaran itu sangat melukaiku bahkan mengoyak seluruh hatiku yang selama 17 tahun merindukan ingin bertemu dengannya. Selain mengukir luka bathin, pertengkaran itu pun memberikan luka di tubuhku. Mata kananku hingga mengeluarkan darah karena harus menanggung kerasnya tamparan dari Kakakku. Meski melawan perlakuan Kakakku demi melindungi diri, tapi aku tetap saja tak berdaya. Dia laki-laki yang selama 17 tahun ku harap bisa menjadi pelindungku ketika Papa memukuliku, tapi hari itu justru ia berlaku bak malaikat maut yang ingin mencabut nyawaku. Mungkin baginya, ia hanya ingin memberi pelajaran, tapi bagiku ia telah membunuhku. Sekali lagi aku telah “mati” dalam pelukan orang-orang tercinta.
Selama 17 tahun aku adalah sulung di rumah karena Kakakku diasuh oleh saudara Papa di kota Luwuk, Banggai. Selama 17 tahun aku adalah orang yang paling bertanggung jawab terhadap keempat adikku dan pekerjaan rumah. Bertanggung jawab dalam artian jika adik-adikku melakukan kesalahan atau ada pekerjaan rumah yang tak terselesaikan dengan baik maka akulah orang yang harus menanggung akibatnya. Kesalahan kecil atau kesalahan besar akan sama fatalnya jika amarah Papa atau Mama sudah terlanjur berkuasa. Rotan, bilah kayu bakar, karet ban sepeda, tali nilon, bahkan selang air, semuanya sudah pernah merajam tubuhku. Benda-benda itu sering kali memecah perih kulitku atau meninggalkan memar yang membuatku harus meringis menahan perih ketika mandi. Aku tak tahu berapa kali tangan Papa-Mama “mentato” lebam di paha atau lenganku dengan cubitan. Terkadang aku bertanya, mungkinkah aku adalah darah daging mereka? Mengapa memperlakukanku demikian? Jika itu adalah wujud kasih sayang, mengapa seperti ingin membunuhku? Beberapa kali aku berniat meninggalkan rumah, bahkan ingin bunuh diri. Aku pernah meminum 1 liter minyak tanah karena tak kuasa menanggung setiap kesalahan. Sampai saat ini, kedua orang tuaku mungkin tak pernah mengira jika aku pernah nekad ingin melakukan semua hal bodoh tersebut. Setiap kali menanggung derita, aku selalu berharap bisa pergi jauh atau mati saja.
Lalu hari itu, Kakakku menyempurnakan penderitaanku selama 17 tahun.
Tamparan tangannya meninggalkan perih dan ngilu jika aku mengunyah. Penglihatanku menjadi buram karena ada gumpalan darah yang memenuhi bola mataku.
Kejadian itu adalah pemicu yang membuatku nekad meninggalkan rumah, merantau ke Makassar meski hanya sebagai pembantu rumah tangga di rumah tante Rasty. Sebelum pergi, aku tetap meminta restu Papa, tapi beliau menjawab bahwa jika ada hal yang terjadi padaku maka ia lepas tangan. Aku harus menanggungnya sendiri.
Lalu beberapa waktu yang lalu, adikku Isdar juga merasakan hal yang sama. Ia bertengkar dengan Kakakku hanya karena hal sepele. Derita yang dialaminya pun sama denganku dulu, ia mendapat tamparan berkali-kali dan tendangan beberapa kali. Telinganya sampai mengalami gangguan dan terus berdengung hingga beberapa hari. Mendengar tangisan pilu adikku lewat telepon seperti menambah sayatan luka hati yang belum lagi mengering. Ku kuatkan adikku dan mengingatkannya agar Papa tak perlu tahu persoalan tersebut, sama sepertiku dulu.
Aku dan Kakakku memang telah lama berdamai dan saling memaafkan, tapi kini aku kembali terluka. Aku begitu menyayanginya, dia Kakakku satu-satunya. Dia satu-satunya anak lelaki dalam keluarga kami. Mengapa ia menjadi begitu brutal ketika marah? Mengapa ia harus marah dengan cara yang membabi-buta?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar